Sejarah Itu Bernama Baju Bola
0
Sementara itu, ada orang lain yang jatuh cinta ke
sepakbola karena penampilan mereka di lapangan. Bukan karena
permainannya, tapi penampilannya, karena kostum yang dipergunakan oleh
tim tersebut. Dia terpana, melihat Eric Cantona mengangkat kerahnya saat
menggunakan kostum Manchester United. Dia kagum, bagaimana kostum
merah-hitam AC Milan begitu anggun digunakan oleh Ruud Gullit dan Marco
Van Basten. Dia pun mulai jatuh cinta dengan pakaian yang digunakan oleh
para pemain tersebut.
Bagi sebagian orang, baju bola adalah pelengkap ketika
dia mendukung tim kesayangnya. Baju bola adalah aksesoris, yang pada
waktunya nanti akan habis dimakan waktu. Tapi bagi orang lain, baju bola
adalah sebuah mahakarya. Setiap baju, setiap musim, memiliki cerita
sendiri-sendiri. Baik dari segi desain, ataupun cerita yang terjadi saat
tim yang bersangkutan menggunakan baju tersebut.

Bisa dibayangkan, bagaimana seorang pria, yang identik
dengan sifat maskulin, dengan sukarela menggunakan warna pink, yang bagi
sebagian orang merupakan warna feminin. Kostum tandang Juventus musim
1997/1998 menjadi penyebabnya. Kembali menggunakan warna asli mereka,
pink, dalam perayaan ulang tahun ke-100 si nyonya tua, membuat warna ini
kembali digemari. Kini, setelah hampir 15 tahun berlalu, kostum pink
yang digunakan pada musim tersebut masih dicari. Bahkan harganya bisa
berlipat, dari harga saat kostum tersebut pertama kali dikeluarkan.
Warna pink-pun bukan menjadi warna yang tabu untuk kostum sepakbola.
Hijau dan Kuning juga jelas bukan warna yang bagus
dikombinasikan, apalagi kalau modelnya serupa dengan kostum badut dari
abad pertengahan. Tapi saat Manchester United menggunakannya, orang pun
berbondong-bondong memilikinya, bahkan rela menebusnya dengan sebuah
sepeda motor.
Sementara itu, kostum Manchester United saat berhasil
meraih tiga gelar juara di musim 1998/1999 menjadi barang buruan karena
cerita dibaliknya. Momen dimana Ole Gunnar Solksjaer berhasil menjebol
gawang Oliver Kahn di detik-detik terakhir laga, menjadi sebuah cerita
yang patut dikenang, di sepanjang sejarah sepakbola. Tak heran, apabila
kostum pada laga tersebut, apalagi yang dikasih nama sang penetak gol
kemenangan, menjadi buruan tersendiri. Begitu pula dengan kecemerlangan
karir sang maestro Zinedine Zidane, membuat kostumnya, dimanapun
klubnya, menjadi buruan utama.
Karena itu, banyak alasan untuk mengumpulkan baju bola.
Mulai dari desainnya, yang mewakili jaman tersebut, hingga cerita yang
ada di baliknya. Baju bola lebih dari sekedar baju, tapi sebuah
mahakarya, dan juga catatan sejarah.


0 komentar: