Sejarah Itu Bernama Baju Bola

0
10.08
costumeishistory1.jpg
Bagi sebagian orang, cinta pertama mereka terhadap sepakbola adalah permainan timnya, atau kehebatan seorang pemain di tim tersebut. Mungkin seorang bocah tergila-gila terhadap Manchester United setelah melihat bagaimana tim tersebut bisa meraih 3 gelar sekaligus pada 1999, sementara sebagian cinta mati ke Liverpool, karena ayahnya adalah seorang penggemar Liverpool di masa-masa emas mereka.
Sementara itu, ada orang lain yang jatuh cinta ke sepakbola karena penampilan mereka di lapangan. Bukan karena permainannya, tapi penampilannya, karena kostum yang dipergunakan oleh tim tersebut. Dia terpana, melihat Eric Cantona mengangkat kerahnya saat menggunakan kostum Manchester United. Dia kagum, bagaimana kostum merah-hitam AC Milan begitu anggun digunakan oleh Ruud Gullit dan Marco Van Basten. Dia pun mulai jatuh cinta dengan pakaian yang digunakan oleh para pemain tersebut.
Bagi sebagian orang, baju bola adalah pelengkap ketika dia mendukung tim kesayangnya. Baju bola adalah aksesoris, yang pada waktunya nanti akan habis dimakan waktu. Tapi bagi orang lain, baju bola adalah sebuah mahakarya. Setiap baju, setiap musim, memiliki cerita sendiri-sendiri. Baik dari segi desain, ataupun cerita yang terjadi saat tim yang bersangkutan menggunakan baju tersebut.
costumeishistory2
Bisa dibayangkan, bagaimana seorang pria, yang identik dengan sifat maskulin, dengan sukarela menggunakan warna pink, yang bagi sebagian orang merupakan warna feminin. Kostum tandang Juventus musim 1997/1998 menjadi penyebabnya. Kembali menggunakan warna asli mereka, pink, dalam perayaan ulang tahun ke-100 si nyonya tua, membuat warna ini kembali digemari. Kini, setelah hampir 15 tahun berlalu, kostum pink yang digunakan pada musim tersebut masih dicari. Bahkan harganya bisa berlipat, dari harga saat kostum tersebut pertama kali dikeluarkan. Warna pink-pun bukan menjadi warna yang tabu untuk kostum sepakbola.
Hijau dan Kuning juga jelas bukan warna yang bagus dikombinasikan, apalagi kalau modelnya serupa dengan kostum badut dari abad pertengahan. Tapi saat Manchester United menggunakannya, orang pun berbondong-bondong memilikinya, bahkan rela menebusnya dengan sebuah sepeda motor.
costumeishistory3 
Sementara itu, kostum Manchester United saat berhasil meraih tiga gelar juara di musim 1998/1999 menjadi barang buruan karena cerita dibaliknya. Momen dimana Ole Gunnar Solksjaer berhasil menjebol gawang Oliver Kahn di detik-detik terakhir laga, menjadi sebuah cerita yang patut dikenang, di sepanjang sejarah sepakbola. Tak heran, apabila kostum pada laga tersebut, apalagi yang dikasih nama sang penetak gol kemenangan, menjadi buruan tersendiri. Begitu pula dengan kecemerlangan karir sang maestro Zinedine Zidane, membuat kostumnya, dimanapun klubnya, menjadi buruan utama.
Karena itu, banyak alasan untuk mengumpulkan baju bola. Mulai dari desainnya, yang mewakili jaman tersebut, hingga cerita yang ada di baliknya. Baju bola lebih dari sekedar baju, tapi sebuah mahakarya, dan juga catatan sejarah.

About the author

Donec non enim in turpis pulvinar facilisis. Ut felis. Praesent dapibus, neque id cursus faucibus. Aenean fermentum, eget tincidunt.

0 komentar: